Lenggahan di Lincak Cafe: Warung Hotspot Bukan Cafe


Sudah lama saya nggak nulis artikel kulineran. Alasannya sederhana: Jogja ini sungguh ramai dan ketat persaingan. Beberapa tempat yang saya pasang di blog kini sudah tinggal nama. Ehem, TINGGAL ARTIKEL SAJA. Tapi mudah-mudahan bukan karena artikel ini, trus warung-warung itu pada tutup. Seusai pulang dari Grebeg Jogja #3, saya pun menghabiskan sore di Lincak Cafe.

Lincak Cafe ini terletak di tepi Selokan Mataram antara Pringwulung dan Outlet Biru. Menurut slogannya, cafe ini lebih utamanya menyediakan hotspot, bukan makanan. Jadi tempat ini mungkin lebih cocok untuk nongkrong, autis bersama laptop, atau bincang bisnis sambil santai. Jelas santai, karena bisa sambil pesan beberapa makanan dan minuman 'khas' Lincak Cafe.

Apa aja yang disajikan di sini?
Bawang bombay goreng.
Karena menu utamanya adalah paket internet hotspot, maka paketan hotspot bisa dinikmati dengan harga Rp3.000,00 hingga Rp150.000,00 sesuai dengan paket yang diinginkan. Makanan yang disajikan bukan masakan khas dari negara atau propinsi khas. Contohnya: nasi goreng, bakmi goreng, kentang goreng, bawang bombay goreng, dan lain-lain. Kalo minumannya ada beragam: macam-macam teh, macam-macam kopi, macam-macam jus, macam-macam cokelat dan lain sebagainya. Saya cukup memesan Milk Tea, kalau Irin memesan Hot Chocolate Cheese. Kemudian sebagai camilan, kami pesan bawang bombay goreng alias Onion Rings.


...su ge na g ra ha wuh
Melihat daftar menunya, saya jadi tertarik dengan Aksara Jawa yang tercantum di daftar menu. Coba, ada yang bisa baca nggak? Mungkin itu maunya berarti: Sugeng Rawuh, seperti yang tertulis di sebelahnya. Tapi apa daya, yang ngedesain menu ini hanya serta-merta menggunakan Font berbentuk aksara Jawa tanpa menguasainya, atau memang tidak bisa dibentuk sedemikian rupa.

Saya pun iseng menanyai si karyawan kafe. Ketika datang membawa minuman yang kami pesan, saya pun tanya:

Ini dia mas-mas yang beruntung
kena inspeksi mendadak.
"Mas, bisa baca tulisan ini gak? Terus artinya apa?"
"Waduh, saya tidak bisa, mas. Saya orang Makassar."

Hmmm, beruntung sekali dia orang Makassar. Bagaimana kalau dia orang Jawa seperti saya ini? Eh, jangan salah, banyak yang tidak bisa baca loh tulisan ini....

Baiklah, puas dengan makan-minum-nongkrong di tempat ini, saya pun beranjak kembali ke rumah. Eh, bersiap-siap menuju ke sebuah situs dink. Sampai jumpa....

Komentar