Classique Pakuningratan



Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Apa daya, saya juga tidak bisa menahan rasa panas yang menempel di pantat saya. Tiga puluh menit pertama, saya menghabiskan waktu untuk berpetualang di jalan-jalan dan lorong-lorong Pakuningratan dan Kranggan, Kota Yogyakarta.

Dalam petualangan kecil ini, saya melihat beberapa rumah unik yang meninggalkan desain kunonya. Akan tetapi, hanya ada beberapa saja yang saya ambil gambarnya. Beberapa rumah antik itu terawat, walaupun memang sudah terkesan kuno. Tapi saya yakin, rumah dengan desain atap gothic itu nyaman ditinggali. Selain adem, pencahayaan dan sirkulasi udaranya bagus. Beberapa rumah yang lainnya tampak tak terawat dan mungkin sudah ditinggalkan. Mereka hanya tinggal menunggu: dibeli oleh orang yang cinta dengan gaya klasik atau dihancurkan untuk diganti dengan yang baru. Andai rumah-rumah itu bisa bicara....

Berikut ini adalah foto-foto hasil perjalanan saya di sekitar Pakuningratan.

Klasik dan terawat, sayang ada tiang listrik dan kabel-kabel yang mengganggu pemandangan. Seperti inilah rumah impianku.
Seperti terpakai, sepertinya juga tidak. Mungkin akan ditinggalkan, sampai-sampai tidak terawat.
Ini juga klasik dan cukup terawat. Menurutku halamannya aja yang kurang luas. But well, masih adem di dalam.
Ini juga sepertinya (nyaris atau sudah) ditinggalkan. Tidak terawat tapi memiliki halaman yang luas. Malah di halaman itu dipakai untuk jualan angkringan.
Corak 'kepala' rumah yang klasik juga. Malah mirip model-model Yunani-Romawi.
Lah!?? Ada cagar budaya: Markas Tentara Pelajar Pusat di deretan Jalan Pakuningratan?
The Chinese House, bertahan melawan dinamika zaman.
Lead me to your door....
Pagar tanaman yang memikat, apalagi kalau semakin dirawat.
[]

Komentar