Kompleks Candi Arjuna

Yeah, touring dengan jarak terjauh yang pernah saya alami! Pagi ini, saya bangun awal dan bergegas berangkat sekitar pukul enam menuju ke dataran tinggi Dieng. Tujuannya adalah melihat batu di kompleks Candi Arjuna, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan kabupaten Wonosobo.

Saya tidak menyia-nyiakan perjalanan saya dengan memandangi kota melulu. Untuk mempercantik perjalanan, saya memerlukan bantuan Google Earth dan catatan kecil. Kedua alat ini saya gunakan untuk menemukan rute terpendek dari Temanggung ke Kompleks Candi Arjuna yang ternyata 'hanya' berjarak kira-kira 49.5 km, yaitu via Ngadirejo - Jumprit. Dibanding via Wonosobo, jalur ini cukup mempersingkat lebih dari 15 km, akan tetapi jalannya ya begitu lah: naik-turun gunung.

Kompleks Candi Arjuna


Saya tiba di lokasi candi sekitar pukul setengah sepuluh, jadi kurang lebih tiga setengah jam saya duduk di sepeda motor dengan dua kali buang air kecil (halah!). Kompleks Candi Arjuna sendiri memiliki lima buah candi yaitu (dari kiri ke kanan) : Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra. Sedangkan di sekitar Kompleks Candi Arjuna, terdapat beberapa kompleks candi dan candi yang berdiri sendiri seperti : Kompleks Candi Setiaki, Kompleks Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Dwarawati, Candi Bima, Candi Parikesit, Candi Antareja, Candi Samba, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Gareng, Candi Petruk dan Candi Bagong. Namun dari keseluruhan candi tersebut, kini hanya tersisa sembilan buah candi yang masih berbentuk. Sisanya hanya berupa fondasi saja. Penamaan candi yang diambil dari tokoh-tokoh pewayangan bukanlah nama asli dari candi ini, melainkan pemberian warga setempat. Nama asli dari candi-candi tersebut belum dapat dipastikan hingga kini.

Candi Arjuna

Menurut saya, candi ini merupakan yang paling cakep di antara kelimanya, mungkin nama 'Arjuna' sendiri memang sengaja dilekatkan pada candi yang paling cakep sesuai dengan legendanya. Candi Arjuna berhadapan langsung dengan Candi Semar. Bentuk candi ini menyerupai Candi Gedongsongo. Pada dinding bagian luar, terdapat tiga relung kosong yang seharusnya berisi Agastya, Dewi Durga dan Ganesha. Pada bagian dalam candi, terdapat sebuah yoni yang dulunya tentu berfungsi untuk wadah air yang selanjutnya dialirkan keluar candi.


Candi Semar

Mungkin juga disesuaikan dengan bentuknya yang paling gembung, nama 'Semar' melekat pada candi ini. Semar merupakan sosok yang tepat untuk menggambarkan seorang pendamping setia Pandawa, sampai-sampai berdiri di dekat dua pandawa di kompleks ini. Dilihat dari bentuknya, mungkin tempat ini berfungsi sebagai bilik para pedande.

Candi Srikandi

Karena lebih pendek ketimbang Candi Arjuna dan Candi Puntadewa, mungkin kedua candi sisanya diberi nama Srikandi dan Sembadra. Srikandi sendiri merupakan 'waria' yang jago panah, yang selanjutnya menjadi istri dari Arjuna. Pada bagian depan candi ini, terdapat relung yang seharusnya diisi oleh arca Nandiswara. Pada dinding bagian luar candi, bukannya relung untuk meletakkan arca yang ada di sana melainkan relief-relief yang bermotif Agastya, Dewi Durga dan Ganesha.




Candi Sembadra

Satu lagi nama istri Arjuna yang dilekatkan pada candi yang paling ujung selatan, Sembadra namanya. Aneh ya, kok kedua istri Arjuna malah mengapit Puntadewa sang kakak tertua. Tapi sepertinya tidak masalah (mungkin Arjuna sedang berburu, jadi ditinggal dirumah bersama dengan sang kakak yang dikenal kalem, walaupun kenyataannya bukan demikian). Di luar candi hanya ada arca Kala. Sedangkan di sekeliling dinding luar candi hanya terdapat relung-relung kosong yang tentu dihuni oleh arca Agastya, Dewi Durga dan Ganesha.



Candi Puntadewa

Ini dia, salah satu Pandawa yang diapit oleh adik-adik iparnya (sebenarnya tidak ada hubungannya). Candi Puntadewa tidak kalah tinggi dengan Candi Arjuna, hanya saja bentuk atapnya menyerupai Candi Sembadra. Di bagian atas candi, terdapat relung kosong yang mungkin diisi oleh arca dewa.








Sebelum memasuki kompleks, saya melihat ada beberapa situs yang terselamatkan di sekitar kompleks. Situs-situs tersebut antara lain: Rekonstruksi Dharmasala dan Sendang Sedayu. Dharmasala mungkin dulunya adalah pendopo atau tempat tinggal atau bisa juga mini-keraton. Sedangkan Sendang Sedayu tentu merupakan petirtaan. Masih ada airnya lho...

Rekonstruksi Dharmasala
Sendang Sedayu

Ramai betul candi ini, sampai-sampai saya harus mencari situasi yang tepat untuk mengambil gambar. Maklum, masih suasana lebaran yang tentunya mengundang para wisatawan lokal untuk bertandang ke sana. Di sana juga terlihat bule-bule yang sibuk memerhatikan (sekaligus mengagumi) kebangkitan peninggalan masa lalu di tanah Indonesia.

Saya melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Candi Setiaki yang terletak di sebelah barat kompleks ini.

Komentar