Candi Sewu


Membuka e-mail dari kak Zenith yang sudah terkirim sejak lama, saya jadi teringat kunjungan saya ke kompleks taman wisata Candi Prambanan. Waktu itu (29/7/2010), selesai IICMA 2010, saya dan kak Zenith mendapatkan hadiah hiburan menemani seorang profesor dari Prancis. Kami bertiga bersama seorang driver kampus berkunjung ke kompleks taman wisata Candi Prambanan. Kami mengunjungi beberapa candi yang ada di sini. Sebenarnya dimulai dari Candi Roro Jonggrang, akan tetapi saya akan mulai dari belakang, yaitu Candi Sewu atau nama lainnya Candi Manjus'ri Ghra.

Missing head
Candi ini berlatar belakang agama Buddha dan merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi pada saat raja Rakai Penangkaran memerintah Kerajaan Mataram Kuno. Kemudian, candi diperluas ketika pemerintahan raja Rakai Pikatan yang menikahi Pramodhawardani dari dinasti Syailendra. Menurut cerita yang saya dengar dari Bapak Giarto (penanggung jawab museum Prambanan), Rakai Pikatan yang beragama Hindu menikahi Pramodhawardani juga karena alasan politik. Oleh karena itulah agama Hindu berkembang pada masa pemerintahannya dengan dibangunnya Candi Roro Jonggrang yang lebih besar.

Arca Dwarapala berjaga di depan candi
Candi ini memiliki empat sisi, masing-masing dengan pintunya. Bentuknya bisa dibilang mirip rumah, karena tiap sudut antara pintu satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh teras. Banyak sekali candi perwara yang berada di sampingnya, namun hanya ada beberapa saja yang dibangun utuh. Tidak seperti namanya, jumlah candi perwaranya hanya 249 unit (bukan 1000 = sewu).

Sebelum kami melalui candi ini, kami melewati candi Buddha lainnya yang bernama Candi Bubrah.

Komentar