Sepeda Wisata ke Desa Srowolan


Minggu, 6 Juni 2010
Meskipun tubuh belum fit, saya mencoba untuk menggowes sepeda lipat saya. Pada hari minggu ini, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan acara "Ayo... Bersepeda Wisata ke Desa". Desa yang menjadi tujuan wisata kali ini adalah desa Srowolan yang terletak di daerah Purwobinangun, Sleman. Setelah sebelumnya saya mendaftar dan mengambil kupon di kafe Leker Je di jalan Cik Di Tiro, minggu pagi saya berangkat menuju ke tempat kumpul yaitu di Monjali untuk menanti teman-teman yang lain yang ingin bersama berangkat menuju ke desa wisata ini.

Dari rumah, saya berangkat pukul setengah lima subuh. Hanya berbekal dua botol air minum, saya gowes ke arah Jalan Kaliurang untuk mengisi angin ban sepeda saya. Mengapa harus di sini? Karena tambal ban di sini 24 jam! Baru kali ini saya tahu kalo ada tambal ban 24 jam (udah kayak Indomaret atau Circle-K).

Karena saya merasa masih terlalu pagi, saya gowes lagi sebentar menuju burjo. Saya pingin cari burjo yang anget yang telah tersedia di pagi buta. Sampailah saya di sebuah burjo yang terletak di jalan Pandega Marta (Pogung Lor). Saya makan burjo, minum es teh sambil facebook-an untuk menghabiskan waktu pagi.

Jam lima kurang sedikit, saya lanjut nggenjot menuju ke lokasi perkumpulan. Memang sih, tidak jauh dari Pogung Lor. Saya harus melintasi Jalan Monjali (yang sekarang jadi Jalan Nyi Tjondroloekito, kalau tidak salah), kemudian menyeberangi Ring-Road Utara. Sesampainya di seberang, baru ada dua orang yang menunggu alias sudah datang. Mereka juga dari Jogja Folding Bike, keduanya menggunakan Wim Cycle Pocket Rocket.

"Kok kepagian, mas?"
"Lha, kan kemarian janjian di tempat ini jam 5 pagi."
"Oh ya, ya? Kemarin pas briefing juga bilangnya begitu, terus berangkat jam setengah 6 tit."

Saya sambil mbathin, "Yang bilang begitu alias yang ngasih briefing belum datang. Yah, mungkin sedang berhalangan."

Tak lama kemudian, beberapa pesepeda lipat maupun MTB datang. Sesaat, kami berkenalan dan bersalaman satu sama lain sambil merasa kebingungan karena belum ada yang mengkoordinir. Akhirnya, mbak Uun Pedals berencana berangkat duluan menuju ke desa.

Jalan yang kami lalui bukan jalan yang datar begitu saja, tetapi cukup menanjak pelan-pelan. Dari Monjali, kami gowes ke utara terus sepanjang Jalan Palagan. Tanjakan semakin bertambah ketika melewati lampu traffic-light di sekitar kilometer 8. Sambil krenggosan pula, saya berjuang menandem mbak Uun yang tampak letih. Ndak apa-apa lah, itung-itung latihan nandem.

Perjalanan terus dilanjutkan hingga di kira-kira kilometer 15. Sudah ada rombongan yang nangkring di sana untuk mengarahkan pesepeda belok kiri menuju Srowolan. Kami beristirahat dan makan arem-arem yang disediakan salah seorang pesepeda di sana.

Setelah tanjakan yang tiada henti, akhirnya kami mendapatkan gratisan turunan. Sekitar 2 kilometer, kami menyusuri jalanan pedesaan sebelum sampai di Srowolan. Di kanan dan di kiri kami tampak area pesawahan yang hijau serta kebun salak. Mau bilang indah ya iya, tapi mau bilang serem juga iya karena pohon salak banyak durinya. Kondisi jalan sudah diaspal baik. Kira-kira 3/4 jalan sudah dilalui, kami harus menanjak lagi. Tapi tanjakan kali ini dirasa lebih bersemangat, karena pemandangan di sekitar kami patut diacungi jempol. Lagian lingkungan semacam inilah yang menawarkan hawa dingin sejuknya pedesaan.

Tak terasa sudah sampai di Pasar Perjuangan Srowolan, berikut ini adalah foto-foto yang bisa saya ambil di sekitar pasar ini:


Di tempat inilah, para pesepeda dari berbagai komunitas berkumpul. Sudah disiapkan snack dan minuman teh hangat bagi peserta yang kelelahan. Saya membeli tahu sumedang dan susu kedelai khas dari daerah sini, lumayan dapet anget-anget seger meskipun rasanya juga tidak berbeda dengan tahu sumedang konvensional. Saya berkeliling dan melihat anak-anak kecil yang sudah dilatih bermusik. Sepertinya ada sanggar kesenian di daerah ini.



Tak lama kemudian, ada woro-woro yang mengisyaratkan peserta agar bersiap-siap melakukan tlusap-tlusup Desa Srowulan. Rute yang dilalui adalah: Pasar Perjuangan Srowulan - Karanggeneng - Gabugan - Jalan Turi - Perempatan Turi - Kembangarum - Gabugan - Pasar Perjuangan Srowulan. Sayangnya, dalam perjalanan ini tidak ada pemandu yang mengarahkan serta memberikan sedikit informasi tentang desa ini. Walaupun demikian, pemandangan di sekitar sini sungguh alami dan mampu menutupi rasa kebingungan kami.



Sesampainya di pasar, atraksi Jathilan + Kuda Lumping sudah siap dipentaskan. Terdiri dari 6 orang penari yang saya lihat umurnya masih sangat muda. Dengan mengenakan aksesoris tradisional serta kuda lumping di tangannya, mereka menari dengan luwes (ada satu orang yang sangat luwes). Di pertengahan atraksi, mereka berenam pada "ndadi". Apa itu ndadi? Percaya tidak percaya, para penari tersebut berada dalam kondisi yang tidak sadar atau unconscious state, beberapa meyakini itu sebagai kesurupan. Mereka menari dengan gerakan berbeda secara random seiring dengan irama gending modern (perpaduan antara alat musik Jawa dan perkusi modern yaitu drum). Setelah beberapa lama, mereka disadarkan oleh dua orang pawang (atau pelatih) yang biasa berhadapan dengan tarian tersebut.

Setelah selesai, ada pembagian doorprize. Salah satu rekan SPSS mendapatkan sepeda gunung Giant. Lumayan. Selamat kepada mbak Juli yang telah mendapatkan hadiah tersebut. Para SPSS-ers berfoto bersama.

Selesai berfoto-foto ria, kami menghabiskan snack kami masing-masing dan pulang menuju ke rumah kami masing-masing.

Awesome village...

Komentar

Posting Komentar

Mari berbagi cerita