Naik-naik Ke Lereng Gunung


Pagi-pagi udah bangun. Disapa suara yang tak asing lagi, pukul setengah enam, Mawi Wihikan Wijna datang dengan tubuh segar dan tampilan wajah yang khas. "Ayo, mangkat!" Lho ke mana? Intinya, dengan sepeda baru aku dan teman-teman seperjuangan naik ke lereng gunung Merapi. Loh? ke lereng kok naik, lha dari dataran rendah ke lereng Merapi tu naik walaupun perlahan-lahan nyicil. OK, sebelum naik ke Pakem, kami kumpul di Monjali terlebih dahulu.

Dari jam 6 pagi, kami melangkah naik menyusuri jalan-jalan kampung. Sejauh 8 km lebih, kami naik hingga akhirnya sampai di Pakem. Di Pakem, kami beristirahat di Warung Ijo. Aku beli gorengan dan roti penutup serta minuman. Huah, benar-benar perjalanan yang melelahkan Sampai di sana ternyata sudah jam setengah delapan. Setelah beristirahat, jam delapan kami meneruskan perjalanan ke arah Prambanan. Jauh, masih 8 km sebelum Prambanan, kami belok ke selatan menuju Maguwo. Pulangnya tu enak banget. Jalannya menurun terus menerus, walau sempat naik sedikit.

Akhirnya kami sampai di Paingan, isi bensin perut dulu. Berhentilah kami di warung soto. Hmmm... benar-benar puas kalau perut kosong lagi terus diisi soto dan gorengan. Setelah makan, kami menuju selokan mataram. Kami berhenti di jembatan yang sering dipakai single-rope training. Karena sudah mulai panas, kami langsung nyucup ke airnya berikut sepeda-sepedanya. Berhubung tim sepedaan kami narsis-narsis, alhasil puluhan hasil jepretan mas Wijna berkilau di mana-mana. Halah.

Setelah puas berdingin-dingin di air, kami pulang masing-masing. Ternyata sudah sekian lama nggak naik sepeda, berefek buruk buat badan. Pegal-pegal, ekstrim encok di kanan dan di kiri. Perjalanan sabtu ini benar-benar menyenangkan walaupun sempat terjadi gangguan di tengah jalan. Rekan kami sempat terserempet sepeda motor...

Ehm, omong-omong kecelakaan, kayaknya aku pernah keingat sesuatu. Untuk menghindari kecelakaan, ada semacam "peraturan" atau "undang-undang" yang bilang kalau kendaraan yang lebih gede harus ngalah sama yang lebih kecil, kecuali kereta api. Bus dan truk harus ngalah dari mobil, mobil harus ngalah dari sepeda motor, sepeda motor harus ngalah dari becak, becak harus ngalah dari sepeda, sepeda harus ngalah dari pejalan kaki, mungkin orang jalan kaki harus ngalah dari orang cacat yang lagi jalan kaki.

Tapi suatu saat, ada kejadian begini. Jalanan tiba-tiba macet. Kenapa??? Bus kan ngalah, kebetulan di depan ada mobil yang berhenti. Kenapa mobil berhenti? Karena di depannya ada sepeda motor juga lagi berhenti. Eh, kenapa motornya berhenti? Karena ada becak sedang menghadang di depannya. Lah becak itu juga kenapa gak gerak? Karena ada sepeda kebingungan di depannya. Ada apa kok bingung? Ada orang mau nyebrang tapi gak jalan-jalan, soalnya ada orang yang sulit berjalan gak lewat-lewat.

Ternyata "undang-undang" semacam itu bikin orang Indonesia yaitu terutama supir angkot-angkot umum, sehingga banyak yang selip-selipan di jalan tanpa memperhatikan di depan ada apa. Kondisi seperti ini yang berakibat macet dan seringnya kecelakaan yang tidak diinginkan.

>>Ekstra!!!<<
Teringat, ini adalah petualangan pertama bersama sepeda "Miami XC02" milikku.

Komentar